curhatan……

awal mula nama arie web berasal dari nama rasa ingin mencari uang tambahan ketika bekerja di perusahaan yg mengalami bangkrut di tahun 2005, ketika itu teman yg sama2 senasib ingin berwirausaha dan saya membantu membuatkan website tenda-tenda.com, sebuah awal project kecil2an sekedar membantu teman yg tidak di duga ternyata menjadi situs urutan no 1 trus di google.

berlanjut ke project ke dua thn 2008 dari teman minta membuatkan website http://www.titiwedding.com

yg alhamdulilah bisnis mereka lancar berkat berbisnis di dunia maya dengan design dari saya.
dan belanjut menyusul website website lain
setelah sekian lama dapat pekerjaan baru dan fakum di dunia web, iseng2 liat nama arie web, loh ternyata di google ada orang yg sudah memakai nama arie web, dengan domain dan hosting berbayar…

skrng jadi bingung pakai nama apa yah ?? kalo di ganti saya sudah nyaman pakai nama itu. dan dah melekat di antara teman2 dengan panggilan itu. nama membawa rejeki saat kesulitan dahulu 🙂

apa lah arti sebuah nama…, hehehehehe..

Iklan

Pantaskah kita merendahkan yang miskin

http://muhtarsuhaili.files.wordpress.com/2007/07/fakir-miskin.jpgMulia dan Hina, Kaya dan Miskin

Dua pasang kata: mulia dan hina, kaya dan miskin selalu kita dengar. Dan biasanya kaya dipasangkan dengan mulia, miskin dipasangkan dengan hina. “Ya benar, memang kata-kata tersebut sangat cocok. Jika orang kaya, dia pasti mulia di hadapan manusia lain, tetapi jika dia miskin dia pasti seperti kelihatan orang yang terhina“. C’mon kamu pasti berpendapat serupa.

Padahal kenyataannya…
Semua manusia sangat fakir dan miskin di hadapan Allah. Jika pendapat kamu bahwa yang fakir atau miskin itu hina, berarti manusia itu sangat hina di hadapan Allah. Allah Pemilik Segala Kekayaan, dan kita hanya “dipinjam” kan sesuatu yang kita sendiri tidak mampu untuk memilikinya. Jiwa dan jasad kita pun kita tidak miliki sendiri apalagi harta benda, status sosial dan sebagainya. Tapi toh, banyak manusia yang selalu beranggapan lebih mulia dan terhormat dibanding orang lain karena dia memiliki “sedikit” kekayaan.
Mengapa saya katakan sedikit? Sedikit jika dibandingkan dengan Yang Mahakaya dan Yang Takterbatas. Pantaskah kamu membanggakan barang pinjaman?

“Ah Anda terlalu berlebihan, harta kekayaan ini saya peroleh dengan susah payah. Semestinya harta ini menjadi milik saya dan pantas saya banggakan“. Memang benar harta itu diperoleh dengan susah payah, tapi siapa yang memberi? Siapa yang melapangkan urusanmu, siapa yang menggugah hati manusia lain untuk memberikan kepercayaan kepadamu agar berbisnis denganmu, siapa yang menurunkan hujan untuk menumbuhkan ladang dan sawahmu, siapa yang memberimu nafas dan air untuk menghapus dahaga saat mencari nafkah?

Banyak sekali pertanyaan namun kamu sepertinya diam. Mungkin kamu sudah berpikir. “Ya, semua ada yang memberi yaitu Allah“. Tidak patutkah kamu bersyukur? Jangan sampai kamu meremehkan orang karena dia fakir atau miskin. Belum tentu rezeki yang diberi oleh Allah itu semua milikmu. Ada sebagian milik orang lain yang dititipkan kepadamu dan kamu harus mengeluarkannya kepada yang berhak. Allah selalu melapangkan rezekimu, “menitipkan” rezeki agar disampaikan kepada orang tuamu, tetanggamu, kerabatmu, dan orang-orang yang tidak beruntung di antara kamu.
Ingatlah, jika orang yang miskin istiqamah, dia akan mudah masuk surga karena penderitaan karena kemiskinan itu sangat berat.

Kita ini sangat fakir dan miskin, kita hampir tiap saat memohon belas kasih Allah.
“Ya Allah Pemilik Segala Keagungan dan Kemuliaan, aku memohon kepada-Mu layaknya orang yang fakir, miskin dan hina. Hambamu ini mengetuk pintu-Mu, maka jangan Engkau usir aku. Ampunkanlah segala dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, dosa-dosa kamu muslimin dan muslimat, mudahkan segala rezekiku, rezeki orang tuaku, rezeki saudara-saudaraku dan mudahkan segala urusanku. Hanya Engkau lah tempat bergantung semua makhluk dan hanya Engkaulah tempat kembali semua makhluk”.

Jika kita berdoa dengan merendahkan diri (dan memang kita sangat rendah di hadapan-Nya), niscaya Allah sangat mengasihani kita, karena sifatnya yang mulia, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.
Sekarang berbenahlah, jika rasa lebih mulia ketimbang orang lain sirna, pastilah sifat tawadhu (rendah hati) akan kita peroleh…